Ketika chating menjadi keseharianku, banyaknya teman aku dapatkan dari sana. Mulai dari yang serius sampe yang cuma candaan. Dari yang rutin sampe cuma sekedar iseng belaka. Dan disini pula aku menemukan dia, cowok yang mulai memperhatikan aku. Menyayangi aku, memberikan aku perhatian yang lebih. Kebetulan aku adalah perantau dari Batam yang kerja di Jakarta, jadi aku merasa perhatiannya merupakan sesuatu yang lebih dari cukup. Memang, jauh dari orang tua kadang membuat aku rindu kasih sayang, tapi lewatnya aku mulai merasakannya kembali.
Chating disiang itu membuat aku mengenalnya, awal pertemuan yang membuat aku membedakan dengan semua teman chatinganku sebelumnya. Keisengan itu berubah menjadi sebuah rasa penasaran.
“Hai”
“Hai”
“Asl” dan percakapan selanjutnya yang dapat membuat kami nyambung.
Awalnya dia mengaku bila umurnya sekitar dibawah aku, menurut aku terlalu muda istilahnya sih ‘Brondonk’. Tapi aku ga peduli, aku tetap menjalani hubungan dengan dia. Betapa bahagianya aku ketika mendapatkan perhatian lebih dari dia. Dan aku memutuskan untuk tetap chating dengannya, bosan juga ya klo chatingan terus.
“Minta no hp-nya donk, kan aku juga mau denger suara kamu”
Waaahhh, aku ga tau apa yang harus aku jawab, memberikannya atau membiarkan jalinan ini tetap dalam dunia maya ? Rasa penasaran untuk mengenalnya lebih lanjut membuat aku berani memberikan no hp aku.
Rutinitasnya kini hanyalah menelponku, meski kadang pekerjaan yang menumpuk menghalang komunikasi kami tapi kami tetap mencari cara lain untuk tetap berkomunikasi. Dan kini malam-malam aku diwarnai dengan suaranya, dengan tawanya dan dengan yang lainnya yang semakin membuat malam-malam aku berbeda. Membuat malamku selama di Jakarta yang penat ini terasa indah dan menyejukkan.
Aku tidak mau semua ini sirna, aku mau ia tetap mewarnai hari-hariku. Aku mau ia tetap memperhatikan aku dan akan tetap menyayangiku. Hingga perasaannya berubah, perasaannya tak lagi sekedar teman tapi lebih. Dia menyukai layaknya pria menyukai perempuan. Dia mengakui segala hal informasi yang ia beritahu sebelumnya kepadaku yang tidak jujur, begitupun aku. Ia mencintaiku dan memintaku untuk menyediakan ruang dihatiku untuknya, betapa aku tidak terkejut.
Aku dan dia sama sekali belum pernah bertemu, kami hanya bertukar foto saja dan untuk pertemuan masih diluar pikiran kami. Bukan hanya tidak mungkin, jarak aku dengannya cukup jauh. Aku di pulau Jawa sedangkan dia di pulau Sumatra. Waktu yang kami punya pun tak mungkin cukup untuk membiarkan kami untuk bertemu.
Cinta ini mulai tumbuh secara perlahan tapi pasti, komunikasi kami sedikitpun tidak pernah putus. Kami selalu menanyakan kabar bila ada sesuatu terjadi pada kami, dan aku perlahan mulai mengizinkannya untuk menempati ruang di hati ini yang lama kosong.
Aku bukan tipe orang yang gampang jatuh cinta, butuh perjuangan yang besar untuk membuat aku mencintai pria itu. Tapi kadang aku juga tak mampu menata hati yang sudah diporak porandakan oleh orang yang aku cintai. Aku tak mampu dengan mudah untuk melupakan semua itu. Jiwaku terlalu lemah, hatiku terlalu lembut, apa salah bila aku tidak mau merasakan patah hati ? Aku muak mencintai pria tapi aku harus merasakan sakit hati, mereka terlalu egois !!!
Tapi dia, dia buat aku bahagia, dia membuat aku merasakan cinta lagi. Dan kini dia mulai aku biarkan menerawangi hari-hariku, membiarkan aku berada diangannya. Hari-hariku mulai cerah, aku semakin menyayanginya. Tak dapat lagi aku ungkapkan apa yang ada didalam diriku saat bersamanya. Dia membuatku semakin mengerti tentang arti cinta, aku bahagia bersamanya. Bukan hanya lewat chat tapi juga lewat telepon kami saling berkomunikasi. Malam menjelang hingga mata ini nyaris terpejampun kami selalu menyempatkan waktu untuk tetap mengisi saat yang kosong.
Hingga hari ini dia perlahan menghilang, jauh dari hatiku. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Chat dan cara komunikasi lainnya tak lagi mampu menghadirkannya disini. Ia menghilang beberapa saat, menjauh dari anganku. Apa yang harus aku lakukan ? Menghampirinya ke Sumatera ? Atau tetap disini menunggu jawaban darinya ? Tapi sampai kapan ? Sampai aku mendapat kabar klo dia menikah dengan orang lain disana ? Tidak mungkin !!! Aku tidak sanggup untuk menunggunya, sayang ini terlalu besar untukya.
Berhari-hari aku tidak mendapatkan kabar darinya, yang aku tahu dia sibuk dengan pekerjaannya. Kerja, kerja dan kerja, sepertinya aku begitu menganggunya sampai-sampai aku tidak dikabari olehnya. Bagaimana keadannya saat ini, baik ? Atau malah sebaliknya ? Dengan sekuat tenaga aku memasukkan pikiran-pikiran yang baik tentangnya. Tentang keadannya, tentang perasaanya, dan tentang segala hal yang membuat aku yakin bahwa dia ‘dalam keadaan baik-baik saja’.